Pendidikan

IPK di Ujung Tanduk: Mahasiswa ITB Mulai ‘Hilang Arah’ Jelang UAS?

Tanggal Terbit

31 Maret 2026

Penulis

Arqila Surya Putra

IPK di Ujung Tanduk: Mahasiswa ITB Mulai ‘Hilang Arah’ Jelang UAS?

IPK di Ujung Tanduk: Mahasiswa ITB Mulai ‘Hilang Arah’ Jelang UAS?

Menjelang Ujian Akhir Semester (UAS), suasana di kalangan mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) berubah drastis. Dari yang biasanya santai mengerjakan tugas di kafe atau bercanda di grup chat, kini berganti menjadi malam-malam tanpa tidur, kopi tanpa henti, dan rasa cemas yang terus meningkat.

Orang pintar bersabda:

"Janganlah kalian pusing, wahai pemuda terbaik bangsa!"

- Budi Rahardjo

login-photo-edited.png

Link menuju ke suatu website: google.com

Klik disini

List tingkat kepusingan mahasiswa ITB:

  1. Biasa

  2. Maksimal

  • Wow

Bagian 1

Bagi sebagian mahasiswa, UAS bukan sekadar ujian akademik—melainkan momen penentu nasib. Tekanan untuk mempertahankan IPK, mengejar target nilai, hingga memenuhi ekspektasi diri sendiri dan keluarga membuat kondisi mental semakin tertekan. Tidak sedikit yang mulai merasa burnout, kehilangan motivasi, bahkan mempertanyakan kemampuan diri mereka.

“Tidur jadi berantakan. Kadang baru mulai belajar jam 12 malam karena siangnya dipakai buat ngejar deadline lain,” ujar salah satu mahasiswa tingkat tiga. Ia mengaku bahwa sistem perkuliahan yang padat membuat waktu belajar untuk UAS terasa tidak pernah cukup.

Fenomena “sistem kebut semalam” kembali menjadi budaya yang sulit dihindari. Banyak mahasiswa memilih begadang demi memahami materi yang selama satu semester terasa terlalu kompleks. Namun, strategi ini sering kali berujung pada kelelahan ekstrem saat hari ujian tiba.

Selain itu, tekanan sosial juga turut memperparah kondisi. Perbandingan dengan teman yang terlihat lebih siap atau lebih produktif di media sosial menambah rasa tidak percaya diri. Hal ini menciptakan lingkaran stres yang sulit diputus.

Meski demikian, beberapa mahasiswa mulai mencoba pendekatan yang lebih sehat, seperti manajemen waktu yang lebih disiplin, belajar bertahap, dan menjaga pola tidur. Kampus pun mulai mendorong pentingnya kesehatan mental melalui berbagai inisiatif, meskipun implementasinya masih dirasa belum maksimal oleh sebagian mahasiswa.

UAS mungkin hanya berlangsung beberapa minggu, tetapi dampaknya bisa jauh lebih panjang jika tidak dikelola dengan baik. Di tengah tekanan akademik yang tinggi, satu hal yang mulai disadari oleh banyak mahasiswa adalah: bertahan itu penting, tapi menjaga diri tetap waras jauh lebih krusial.