
Keilmuan
Roasting Process: Penyebab Perbedaan Tingkat Keasaman dan Kepahitan Pada Kopi
12 Mei 2026
Tanggal Terbit
24 Agustus 2026
Penulis
Khirania Azzuhra Sentosa

Dalam beberapa pekan terakhir, jagat media sosial Indonesia diramaikan oleh sebuah frasa sederhana namun menular cepat: “saya ganti kimpul”. Ungkapan ini bermula dari kreator konten TikTok dengan akun @black.sheep8208, yang gemar membuat ulang aneka masakan viral, mulai dari arancini Italia, bibim guksu Korea, hingga mashed potato, dengan mengganti bahan utamanya menjadi kimpul, umbi lokal asal Indonesia.
Gaya bicaranya yang khas kemudian memicu gelombang parodi di TikTok maupun X, di mana warganet ramai-ramai “mengganti” berbagai hal dengan kimpul secara jenaka, mulai dari ongkos KRL hingga laptop kerja. Di sisi lain, tren ini juga berakar dari konten seorang ibu asal Bantul, Yogyakarta, yang menunjukkan kekayaan kuliner lokal yang ia konsumsi sehari-hari, salah satunya kimpul, serta kreator seperti Manik Nur Hidayati lewat gerakan “Isi Piringku” yang secara konsisten mempromosikan keberagaman pangan lokal.
Fenomena ini bahkan mendapat perhatian dari Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, yang melalui akun Instagram pribadinya turut menyoroti kimpul sebagai salah satu sumber pangan lokal yang layak dijadikan alternatif pengganti nasi.
Talas kimpul/belitung merupakan makanan sumber karbohidrat, rendah lemak, dan indeks glikemiknya rendah. Talas kimpul juga mengandung zat gizi yang bermanfaat untuk kesehatan, seperti serat pangan, pati resisten, mineral tembaga, kalium, vitamin B3, serta komponen bioaktif diosgenin dan flavonoid.
— Prof. Evy Damayanthi, Departemen Ilmu Gizi, IPB University
Di balik candaan dan tren sesaat, fenomena kimpul membuka pertanyaan yang jauh lebih serius: apa sebenarnya kimpul itu, apa manfaatnya secara ilmiah, sejauh mana potensinya dikembangkan di Indonesia, dan apa artinya bagi masa depan ketahanan pangan bangsa? Kajian ini disusun untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Kimpul, yang secara ilmiah dikenal sebagai Xanthosoma sagittifolium, adalah tumbuhan berbunga tropis dari famili Araceae (suku talas-talasan) yang menghasilkan umbi berpati (Siqueira & Veasey, 2023). Tanaman ini berasal dari Amerika tropis, di mana ia telah dibudidayakan sejak masa pra-Columbus, dan mulai menyebar ke kawasan Pasifik hingga Asia, termasuk Indonesia, pada pertengahan hingga akhir abad ke-19 (Plucknett, 1976, dalam Boakye et al., 2018). Di berbagai daerah di Indonesia, kimpul memiliki keragaman genetik dan morfologi yang cukup tinggi, dengan nama dan karakter umbi yang bervariasi antarwilayah, seperti ditunjukkan pada populasi kimpul umbi kuning di lereng Gunung Merapi, Klaten (Sugiyarto dkk., 2012).
Kimpul kerap disamakan dengan talas biasa (Colocasia esculenta), padahal keduanya adalah genus yang berbeda meski masih satu famili. Kerancuan penamaan seperti ini juga sering terjadi di dalam genus Xanthosoma itu sendiri, karena hingga kini belum ada kajian taksonomi yang benar-benar tuntas untuk memisahkan kultivar-kultivarnya secara jelas (Jansen et al., dalam PROSEA). Penelitian terhadap kimpul di Kulon Progo, Yogyakarta, yang membandingkan ciri fisik tanaman dengan penanda genetiknya, juga menemukan hasil yang saling mendukung, sebuah petunjuk bahwa kultivar kimpul di Indonesia ternyata cukup beragam (Nurmiyati, Sugiyarto, & Sajidan, 2009).
Di balik tampilannya yang sederhana, kimpul menyimpan sejumlah keunggulan yang menarik untuk dicermati, baik dari segi gizi maupun manfaat fungsionalnya bagi tubuh.
1. Karbohidrat dengan "kelas tersendiri"
Sekitar 70–80% bobot umbi kimpul terdiri atas pati, menyumbang energi sekitar 145 kkal per 100 gram bagian yang dapat dikonsumsi. Namun, tidak semua pati diciptakan sama, sebagian dari pati kimpul tergolong pati resisten (resistant starch), yaitu fraksi pati yang tidak sepenuhnya dicerna di usus halus dan baru diolah lebih lambat oleh tubuh (Karo-Karo & Estiasih, 2014; Boakye et al., 2018).
2. Bersahabat dengan gula darah
Berkat karakteristik patinya tersebut, kimpul memiliki indeks glikemik yang lebih rendah dibandingkan nasi putih, sehingga konsumsinya tidak memicu lonjakan gula darah yang tajam. Hal ini menjadikan kimpul relevan sebagai pilihan karbohidrat bagi kelompok yang perlu menjaga kestabilan gula darah, termasuk sebagai bagian dari upaya menekan risiko diabetes tipe 2 (Boakye et al., 2018).
3. Bikin kenyang lebih tahan lama
Kimpul turut mengandung protein sekitar 2–10 gram dan serat pangan sekitar 1–3 gram per 100 gram, tergantung varietas dan lokasi tumbuhnya (Wada, Feyissa, & Tesfaye, 2019). Duet pati resisten dan serat pangan inilah yang membuat kimpul memberikan efek kenyang lebih lama dibandingkan sumber karbohidrat sederhana.
4. Punya "sahabat" bagi bakteri baik di usus
Umbi kimpul mengandung Polisakarida Larut Air (PLA) yang berperan melancarkan pencernaan sekaligus meningkatkan populasi bakteri baik Bifidobacterium di dalam usus besar, sehingga berpotensi berfungsi layaknya prebiotik alami (Karo-Karo & Estiasih, 2014).
5. Gudangnya mineral dan antioksidan
Kimpul tergolong cukup kaya kandungan mineral seperti kalium, fosfor, magnesium, kalsium, dan tembaga, serta vitamin C dan niasin (vitamin B3) yang berperan penting dalam metabolisme energi tubuh (Offei et al., 2004, dalam Boakye et al., 2018). Kimpul juga mengandung senyawa bioaktif diosgenin dan flavonoid yang bersifat antioksidan.
6. Bebas gluten tanpa usaha ekstra
Karena bukan berasal dari kelompok serealia, kimpul secara alami bebas gluten, sehingga aman dikonsumsi oleh kelompok dengan intoleransi gluten tanpa perlu proses pengolahan khusus.
Satu catatan penting: waspadai rasa gatalnya. Di balik segudang manfaatnya, kimpul juga mengandung kalsium oksalat, senyawa anti-gizi yang menjadi penyebab rasa gatal apabila dikonsumsi dalam keadaan mentah atau kurang matang, dengan densitas kristal yang bahkan lebih tinggi pada daun dibandingkan pada umbinya (Boakye et al., 2018). Kabar baiknya, senyawa ini relatif mudah dijinakkan: pengolahan yang tepat melalui perebusan, pengukusan, atau pemanggangan yang cukup matang terbukti efektif menurunkan kadarnya secara signifikan.
Dari seluruh fakta di atas, satu hal yang perlu digarisbawahi: klaim "kimpul lebih sehat daripada nasi" tidak dapat dimaknai secara mutlak. Keunggulan kimpul bersifat kontekstual, bergantung pada kebutuhan gizi individu, porsi konsumsi, dan pola makan secara keseluruhan. Dengan demikian, kimpul lebih tepat diposisikan sebagai salah satu pilihan diversifikasi pangan, bukan sebagai pengganti mutlak nasi.
Kimpul telah lama menjadi makanan pokok alternatif di berbagai daerah Indonesia, dikonsumsi dengan cara dikukus, dipanggang, maupun direbus. Selain dikonsumsi langsung, kimpul juga diolah menjadi berbagai produk turunan seperti tepung, keripik, kerupuk, stik, emping, dan mi, bahkan telah diteliti sebagai bahan baku bioetanol (Karo-Karo & Estiasih, 2014). Meski potensinya besar, kimpul termasuk komoditas sumber karbohidrat yang hingga kini masih minim perhatian, baik dari sisi pembudidayaan maupun pengembangan teknologi pengolahannya (Karo-Karo & Estiasih, 2014; Nurmiyati, Sugiyarto, & Sajidan, 2009). Ketiadaan data produksi yang terpublikasi secara terpisah turut mencerminkan persoalan yang lebih besar: kimpul, seperti banyak komoditas pangan lokal lainnya, belum mendapat tempat yang memadai dalam kebijakan pertanian dan pangan nasional, meskipun secara agroekologis tanaman ini relatif mudah dibudidayakan, termasuk pada lahan kering dan lahan marjinal yang kurang cocok untuk tanaman pangan utama seperti padi (Siqueira & Veasey, 2023). Padahal, secara global, kimpul dan kerabatnya (dikenal sebagai cocoyam) tergolong salah satu tanaman umbi terpenting di dunia dan menjadi sumber pangan bagi sekitar 400 juta orang (Boakye et al., 2018).
Viralnya kimpul di media sosial membuka jendela peluang yang jarang terjadi: sebuah komoditas pangan lokal yang selama ini terpinggirkan, mendadak mendapat panggung dan perhatian publik secara luas. Momentum ini idealnya tidak berhenti sebagai tren kuliner semata, melainkan dikonversi menjadi langkah nyata pengembangan komoditas, mulai dari riset dan pemuliaan varietas unggul, pengembangan hilirisasi seperti tepung kimpul sebagai substitusi sebagian tepung terigu, hingga dukungan kebijakan yang memadai bagi petani pembudidaya umbi lokal (Siqueira & Veasey, 2023). Momentum ini juga relevan dengan agenda ketahanan pangan nasional yang lebih besar, mengingat Indonesia masih bergantung pada impor gandum dalam jumlah signifikan setiap tahunnya untuk memenuhi kebutuhan industri dan konsumsi masyarakat, sebuah ketergantungan yang berpotensi berangsur berkurang lewat penguatan konsumsi karbohidrat lokal seperti kimpul.
Kimpul sesungguhnya hanyalah satu dari sekian banyak "hidden gem" di antara kekayaan pangan lokal Indonesia. Sebagai negara dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi kedua di dunia setelah Brasil, Indonesia memiliki banyak komoditas pangan lokal lain yang bernasib serupa: potensial secara gizi dan agroekologi, namun belum dimanfaatkan secara optimal, mulai dari aneka umbi seperti ganyong, garut, gembili, gadung, suweg, porang, dan uwi, hingga serealia lokal seperti sorgum, hotong, hanjeli, dan jawawut, serta sumber pati lain seperti sukun, pisang, labu kuning, dan sagu. Persoalan yang dihadapi komoditas-komoditas ini pada dasarnya sama: minimnya riset dan pengembangan, rantai pasok yang belum tertata, rendahnya nilai tambah ekonomi bagi petani, serta citra sebagai "pangan kelas dua" yang membuat generasi muda kurang tertarik mengonsumsi maupun membudidayakannya (Nurmiyati, Sugiyarto, & Sajidan, 2009).
Di balik potensinya yang besar, upaya mengangkat kimpul dari komoditas pangan lokal menjadi bahan baku industri menghadapi sejumlah tantangan struktural yang perlu diatasi secara bertahap.
1. Ketiadaan Pasokan Bahan Baku yang Stabil
Kimpul saat ini masih ditanam secara sporadis di lahan pekarangan atau skala kecil, belum melalui sistem budidaya terencana yang mampu menjamin konsistensi volume, kualitas, dan waktu panen, padahal ketiga aspek ini menjadi prasyarat bagi perencanaan kapasitas produksi industri.
2. Belum Tersedianya Varietas Unggul Hasil Pemuliaan
Keragaman genetik kimpul antarwilayah, sebagaimana ditemukan pada penelitian di Klaten (Sugiyarto dkk., 2012) dan Kulon Progo (Nurmiyati, Sugiyarto, & Sajidan, 2009), mencerminkan variasi karakter umbi yang tinggi, dari kadar pati hingga kadar oksalat, yang belum diarahkan melalui program pemuliaan untuk menghasilkan kultivar dengan performa seragam dan optimal.
3. Teknologi Pengolahan Pascapanen Skala Industri Masih Minim Pengembangan
Metode penurunan kadar kalsium oksalat, seperti perebusan, fermentasi, maupun perlakuan fisik-kimia (Oke & Bolarinwa, 2012; Sulaiman dkk., 2021), sejauh ini masih diuji dalam skala laboratorium dan belum tentu efisien secara biaya maupun waktu jika diterapkan pada volume produksi industri.
4. Infrastruktur Rantai Pasok Belum Tertata
Berbeda dengan komoditas pangan pokok seperti padi yang telah memiliki sistem logistik dan distribusi mapan. Pangan lokal lain, seperti kimpul, belum memiliki infrastruktur rantau pasok dari petani ke fasilitas pengolahan yang tertata.
5. Minimnya Insentif Petani
Untuk membudidayakan kimpul dalam skala besar, insentif yang di dapatkan petani relatif kecil akibat belum adanya kepastian pasar dari sisi industri, sementara industri sendiri enggan berinvestasi tanpa jaminan pasokan yang memadai.
6. Standar Mutu dan Regulasi Kamanan Pangan
Standar dan regulasi ini, untuk kimpul, termasuk batas aman kandungan oksalat serta sertifikasi setara SNI belum tersedia, padahal ini menjadi syarat mutlak bagi produk turunan kimpul untuk masuk ke rantai industri pangan olahan.
7. Persepsi Pasar
Persepsi pasar terhadap kimpul sebagai "pangan kelas dua" turut membatasi daya serap konsumen, sehingga memengaruhi kelayakan investasi hilirisasi dari sisi permintaan.
8. Kebutuhan Pendanaan Riset dan Investasi Hilirisasi
Pendanaan riset dan inovasi yang memadai hingga kini belum menjadi prioritas kebijakan pertanian dan pangan nasional dibandingkan komoditas strategis seperti padi, jagung, dan kedelai.
Mengatasi tantangan-tantangan ini memerlukan sinergi antara riset pemuliaan varietas, pengembangan teknologi pengolahan yang efisien, penguatan rantai pasok, serta dukungan kebijakan yang konsisten, sebuah langkah yang sejalan dengan momentum viralnya kimpul di media sosial saat ini.
Kimpul membuktikan satu hal: tren media sosial bisa jadi pintu masuk edukasi pangan. Tapi jangan biarkan momentum ini cuma jadi lucu-lucuan sesaat.
Sekarang giliran pemerintah mendukung riset dan petani lewat kebijakan nyata, industri mulai melirik kimpul sebagai bahan baku, kreator konten terus menyuarakan pangan lokal, dan kita semua, mulai dari piring sendiri, memberi kesempatan untuk rasa baru yang sebenarnya sudah lama ada.
Kimpul hanya satu dari ratusan pangan lokal yang menanti giliran. Indonesia adalah negara yang kaya dengan keragaman hayati nomor dua di dunia.
Sudah saatnya Indonesia, sebagai negara yang kaya, benar-benar memanfaatkan kekayaan itu bagi kedaulatan pangannya sendiri.
Daftar Pustaka
Boakye, A. A., Wireko-Manu, F. D., Oduro, I., Ellis, W. O., Gudjónsdóttir, M., & Chronakis, I. S. (2018). Utilizing cocoyam (Xanthosoma sagittifolium) for food and nutrition security: A review. Food Science & Nutrition, 6(4), 703–713.
Espinosa-Solis, V., Zamudio-Flores, P. B., Espino-Díaz, M., Vela-Gutiérrez, G., Rendón-Villalobos, J. R., Hernández-González, M., Hernández-Centeno, F., López-De la Peña, H. Y., Salgado-Delgado, R., & Ortega-Ortega, A. (2021). Physicochemical characterization of resistant starch type-III (RS3) obtained by autoclaving malanga (Xanthosoma sagittifolium) flour and corn starch. Molecules, 26(13), 4006.
Karo-Karo, S. J., & Estiasih, T. (2014). Mie dari umbi kimpul (Xanthosoma sagittifolium): Kajian pustaka. Jurnal Pangan dan Agroindustri, 2(2), 127–134.
Nurmiyati, Sugiyarto, & Sajidan. (2009). Kimpul (Xanthosoma spp.) characterization based on morphological characteristic and isozymic analysis. Nusantara Bioscience, 1, 138–145.
Oke, M. O., & Bolarinwa, I. F. (2012). Effect of fermentation on physicochemical properties and oxalate content of cocoyam (Colocasia esculenta) flour. International Scholarly Research Notices, 2012, 978709.
Siqueira, M. V. B. M., & Veasey, E. A. (2023). Agronomic characteristics (varieties or landraces) and potential of Xanthosoma sagittifolium as food and starch source. Dalam Starchy Crops Morphology, Extraction, Properties and Applications. Elsevier.
Sugiyarto, dkk. (2012). Distribusi, populasi, dan karakter morfologi tanaman kimpul (Xanthosoma sagittifolium (L.) Schott) umbi kuning di lereng Gunung Merapi Kabupaten Klaten. Seminar Nasional IX Pendidikan Biologi FKIP UNS 2012, Universitas Sebelas Maret.
Sulaiman, I., Annisa, C., Lubis, Y. M., Rozali, Z. F., Noviasari, S., Eriani, K., & Asrizal. (2021). Decreasing oxalate levels in Kimpul tubers (Xanthosoma sagittifolium) by physical and chemical methods. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 667(1), 012015.
Wada, E., Feyissa, T., & Tesfaye, K. (2019). Proximate, mineral and antinutrient contents of cocoyam (Xanthosoma sagittifolium (L.) Schott) from Ethiopia. International Journal of Food Science, 2019, 8965476.